
TL;DR
Doa buka puasa yang paling shahih menurut hadis riwayat Abu Dawud adalah “Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah” yang artinya telah hilang rasa haus, basahlah urat-urat, dan tetaplah pahala insya Allah. Ada juga versi yang lebih dikenal luas: “Allahumma laka shumtu.” Niat puasa sendiri dilafalkan saat hendak berpuasa, bukan saat berbuka.
Menjelang waktu Maghrib tiba, banyak orang segera membaca doa sebelum menyentuh makanan atau minuman pertama. Ini adalah sunnah berbuka puasa yang sudah dipraktikkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Namun tidak sedikit yang masih bingung: doa mana yang paling sesuai sunnah, apakah “Allahumma laka shumtu” atau “Dzahabazh zhama’u”, dan bagaimana membaca keduanya dengan benar?
Artikel ini menguraikan bacaan niat buka puasa beserta penjelasan tentang dua versi doa yang dikenal luas, dasar hadisnya, waktu membacanya, dan tata cara berbuka yang dianjurkan.
Perbedaan Niat Puasa dan Doa Buka Puasa
Sebelum membahas bacaannya, penting untuk meluruskan satu hal yang sering tercampur: niat puasa dan doa buka puasa adalah dua amalan yang berbeda, dilakukan pada waktu yang berbeda.
Niat puasa dilafalkan saat hendak memulai puasa, yaitu pada malam hari atau setelah sahur sebelum waktu Subuh. Bacaan niat puasa Ramadan adalah: “Nawaitu sauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala” yang artinya “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardu Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Doa buka puasa dibaca saat berbuka, yaitu ketika Anda hendak menyantap makanan atau minuman pertama setelah terdengar azan Maghrib. Ini yang menjadi pembahasan utama dalam artikel ini.
Doa Buka Puasa Versi Pertama (Shahih Riwayat Abu Dawud)
Doa yang paling kuat sanadnya berdasarkan hadis shahih adalah:
Bacaan Arab:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Latin: Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah
Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan basahlah urat-urat, dan telah tetap pahala insya Allah.”
Doa ini diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., bahwa apabila Rasulullah SAW berbuka puasa, beliau mengucapkan doa tersebut. Hadis ini terdapat dalam Sunan Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani. Menurut Muhammadiyah.or.id, inilah doa buka puasa yang paling kuat dasar hadisnya dan dianjurkan untuk diamalkan.
Baca juga: Forecasting Adalah: Pengertian, Metode, dan Manfaatnya
Doa Buka Puasa Versi Kedua (Allahumma Laka Shumtu)
Versi kedua yang lebih banyak dikenal dan diajarkan di berbagai tempat:
Bacaan Arab:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Latin: Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang pengasih.”
Mengenai status hadis versi kedua ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian menganggap sanadnya lemah (dha’if), namun karena maknanya baik dan telah lama diamalkan oleh umat Islam secara luas, doa ini tetap diperbolehkan untuk dibaca. Detik Hikmah mencatat bahwa para ulama empat mazhab tidak melarang penggunaan doa ini dalam praktik berbuka puasa.
Ada Juga Versi Lebih Singkat
Dalam beberapa riwayat juga disebutkan versi yang lebih ringkas:
Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Versi singkat ini bisa menjadi pilihan ketika waktu berbuka sangat terbatas atau dalam situasi tertentu yang membutuhkan doa yang lebih pendek.
Kapan Doa Buka Puasa Dibaca?
Waktu terbaik membaca doa buka puasa adalah setelah azan Maghrib berkumandang, tepat sebelum menyantap makanan atau minuman pertama. Dalam sunnah berbuka, dianjurkan untuk segera berbuka begitu waktu Maghrib tiba dan tidak menundanya. Rasulullah SAW biasanya berbuka dengan beberapa butir kurma atau air putih sebelum kemudian melaksanakan salat Maghrib.
Waktu berbuka adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Para ulama menganjurkan untuk memperbanyak doa pribadi di saat ini, bukan hanya membaca doa buka puasa yang sudah ada, tetapi juga memanjatkan permohonan lain kepada Allah. MUI menjelaskan bahwa keduanya boleh diamalkan, dan umat Islam tidak perlu mempersoalkan mana yang “lebih benar” selama keduanya memiliki dasar dari tradisi ulama.
Tata Cara Berbuka Puasa yang Dianjurkan
- Segera berbuka ketika azan Maghrib berkumandang. Menunda buka puasa tanpa alasan yang jelas tidak dianjurkan.
- Mulai dengan kurma atau air putih. Ini adalah sunnah Nabi. Jika tidak ada kurma, cukup dengan air putih.
- Baca doa buka puasa sebelum atau saat pertama kali menyantap makanan.
- Jangan terlalu banyak makan saat berbuka. Perut yang kosong seharian tidak perlu langsung diisi penuh. Mulai dengan yang ringan, lalu lanjutkan makan besar setelah salat Maghrib.
- Laksanakan salat Maghrib. Berbuka dulu secukupnya sebelum salat, agar tubuh mendapat energi awal tanpa mengorbankan waktu salat.
Baca juga: Supervisor Adalah: Tugas, Tanggung Jawab, dan Gajinya
Apakah Boleh Membaca Kedua Versi Doa?
Boleh. Tidak ada larangan untuk membaca keduanya, baik secara bergantian di hari yang berbeda maupun mengkombinasikan keduanya. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan kesadaran akan makna doa yang diucapkan.
Jika ingin mengikuti yang paling kuat dasar hadisnya, prioritaskan versi “Dzahabazh zhama’u”. Jika sudah terbiasa dengan “Allahumma laka shumtu” sejak kecil dan merasa lebih khusyuk dengan versi ini, tetap boleh diamalkan karena ulama tidak mempermasalahkannya.
Membaca niat buka puasa dengan memahami maknanya, bukan sekadar melafalkan bunyi, adalah bentuk penghayatan ibadah yang lebih utuh. Doa berbuka adalah pengakuan bahwa puasa yang baru diselesaikan adalah karena Allah, dan rezeki yang memungkinkan berbuka juga datang dari-Nya.